Borbala Halpern mengunjungi Galungan – 2016

“Sudah selama 3 tahun saya datang secara teratur ke Bali, dan sejak beberapa bulan saja menjadi orangtua asuh melalui Yayasan Anak tetapi benar-benar untuk yang pertama kalinya saya berkesempatan menemui Arif, anak asuh saya. Kami menempuh perjalanan selama 8 jam bersama Nelly Papunetti (Ketua Yayasan di Perancis) dan Djahil (relawan yang mengurusi proyek-proyek di lapangan) menuju Galungan dimana kami bertemu kordinator lapangan kemudian bertemu anak asuh saya, yang datang langsung dari sekolahnya. Sedikit malu-malu, ia tampak sangat senang mendapatkan sepeda yang saya belikan saat kunjungan yang pertama kali ini. Perbincangan yang sangat hangat, istirahat sebentar, kami berangkat lagi dengan kendaraan menuju rumahnya Arif. Oleh karena mereka tinggal di tengah sawah, kami harus berjalan kaki di alam dengan pemandangan yang indah sekali. Keluarganya menyambut kami dengan kesederhanaan, dengan senyum di bibir, beberapa buah kelapa dan terutama waktu yang berharga saat kami saling berbagi. Itu adalah hari yang tidak terlupakan. Saya berterimakasih sekali lagi terhadap Yayasan Anak untuk waktu yang indah itu yang selalu tersimpan di hati saya.”

Testimoni dari Valerie dan Christian CARRE – 2016

Pada perjalanan pertama kami ke Bali di tahun 2014 kami jatuh cinta dengan pesona pulau ini dan kebaikan penduduknya.
Kami ingin bisa membawa sesuatu yang konstruktif dan berguna. Kami menemukan Yayasan Anak dan memutuskan untuk mensponsori seorang remaja laki-laki untuk kelangsungan pendidikannya.
Pada perjalanan kedua kami ke Bali di tahun 2016 memungkinkan kami untuk berjumpa dengan anak asuh kami, keluarganya, begitu juga dengan Tim Yayasan Anak di tempat. Sebuah pertemuan yang kami tunggu dengan tidak sabar.
Ini adalah saat yang istimewa untuk berkenalan dengan Anta, anak asuh kami, kedua adik laki-lakinya dan ibu mereka, dalam kehidupan mereka yang nyata.
Sulit untuk berkomunikasi ketika kita tidak menguasai bahasa lokal. Untungnya, ada kehadiran koordinator lapangan Yayasan Anak di pihak kita untuk memfasilitasi diskusi kami. Senyum dan gerak tubuh yang lembut adalah bahasa universal, bagian dari komunikasi itu sendiri.
Kami berbagi sehari penuh dengan Anta. Kami membawa dia dan dua adik laki-lakinya pergi berekreasi ke Water Park. Tawa dan sukacita mereka di dalam air adalah hadiah yang besar bagi kami. Kami makan siang bersama-sama, melakukan belanja beberapa kebutuhan bahan makanan untuk keluarga mereka dan kemudian kami membawa mereka kembali. Setelah menunjukkan ke ibu mereka beberapa foto yang diambil pada waktu di Water Park, kami mengucapkan selamat tinggal. Senyum Anta di wajahnya membuat hati kami bahagia. Kami pasti akan datang lagi melihat Anta dan keluarganya. Kami akan terus melanjutkan membiayai pendidikannya.
Tim dari Yayasan Anak melakukan pekerjaan luar biasa untuk semua anak-anak asuh ini. Sadar akan kualitas, komitmen dan dedikasi dari tim Yayasan Anak, keluarga kami memutuskan untuk mensponsori satu anak lain lagi.
Tentu, antara orang tua asuh dan anak asuhnya terdapat dua budaya yang berbeda, dua gaya hidup yang berbeda, dua cara melihat kehidupan yang berdampingan, tetapi dalam hati hanya ada satu pesan untuk semua, kebersamaan, kebaikan, saling membantu.
Tentu, ini adalah kesempatan besar bagi seorang anak untuk memiliki orang tua asuh yang membantu dia dalam membiayai kelangsungan pendidikannya untuk masa depannya, tetapi itu juga sebuah hadiah yang bagus yang kita buat untuk diri kita sendiri dalam hubungan persaudaraan yang menumbuh-kembangkan kita bersama.
Untuk bisa mengerti bagaimana indahnya saat bertemu, berbagi dan belajar kehidupan kita harus mengalaminya langsung, karena setiap orang punya cara untuk memberi, menerima dan merasaka kehidupan.
Terima kasih untuk semua momen berbagi ini.”

Françoise – Ibu Asuh Dari Wayan Witama Umur 14 Tahun – Tahun 2014

“Saya mengetahui Yayasan Anak Bantuan Anak Indonesia melalui La Gazette de Bali 3 tahun yang lalu. Saya memulai dengan menjadi relawan, kemudian saya menemui Christine Grosso di Bali,sebelum mengangkat anak asuh. Anak asuh kami I WayanWitama pada saat itu berumur 12 tahun, dia tinggal bersama orang tuanya dekat dengan pusat kegiatan Yayasan Anak di Desa Bunutan Kecamatan Abang Kabupaten Karang Asem,sebuah tempat yang saya ketahui dan  sangat saya sukai semenjak 25 tahun lalu. Kami Pergi bersama Dwi dan kordinator lapangan Yayasan Anak untuk makan siang bersama keluarga I Wayan Witama. Orang tuanya, kakeknya dan keluarga pamannya menerima kami dengan sambutan yang sangat hangat dan ramah, saya sangat tersentuh dengan pertemuan ini. Benar-benar mengejutkan mengetahui bahwa keluarga ini tidak punya apa-apa, benar-benar tidak mampu… tidak ada air bersih ,tidak ada fasilitas untuk bisa hidup layak, tetapi mereka tetap tersenyum dan bersemangat. Saya sungguh-sungguh mengharapkan I Wayan bisa menyelesaikan sekolahnya dan setelah itu bisa membantu keluarganya dikemudian hari. Terima kasih Yayasan Anak untuk anak-anak miskin di Bali dan untuk kami sehingga kami bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini.”

Mathilde – 2014

“Dengan penuh perasaan dan beberapa kenangan memenuhi kepala menyertai kepulangan saya dari kunjungan saya selama lima bulan di Bali.Saya seorang wanita muda berumur 26 tahun, saya ingin liburan,menantang diri sendiri dan melihat dari dalam bagaimana bekerjanya sebuah yayasan. Inilah alasannya kenapa saya memutuskan untuk pergi ke Bali selama 5 bulan sendiri dan menghubungi Yayasan Anak Bantuan Anak Indonesia. Saya sudah diterima dengan baik oleh Itra dan Pierre begitu juga tim Yayasan Anak di Bali : Mantra, Dwi dan Sus.

Oleh karena itu .Saya mengikuti tim Yayasan Anak pada setiap distribusi bulanan dan akhir tahun ajaran pada bulan Juli.Saya tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan yang menyertai baik kecil maupun besar selama beberapa bulan ini.Kami berbaur dengan cepat.Anak-anak ini adalah hadiah dari langit.Mereka memberikan anda sebuah pelajaran hidup yang bagus dan menunjukkan kepada anda bahwa hanya dengan sedikit  kita bisa melakukan banyak hal dan terutama yang penting adalah dengan kemauan dan keuletan. Mereka masih tetap menjadi penyemangat saya sekarang, saya selalu berfikir tentang mereka begitu saya mau menyerah pada setiap masalah, saya hanya ingat bahwa saya tidak bisa mengecewakan mereka……

Mereka selalu tersenyum, selalu termotivasi dan setelah melewati rasa malu mereka bahkan lupa bahwa Anda tidak berbicara bahasa mereka. Setiap bulan, saya melihat mereka tumbuh sedikit lebih besar, karena mereka selalu ingin berbagi dengan saya rahasia kecil mereka (terutama anak-anak SMA yang perempuan), anak-anak yang paling kecil dengan cara mereka menarik tangan saya untuk duduk di sisi mereka dan mengambil foto dengan mereka! Kamera sepertinya tak terbayangkan untuk mereka dan mereka tidak berhenti untuk mengambil foto,itu merupakan kepuasan bagi saya!

Anak-anak yang tidak bisa dating pada distribusi  karena mereka pergi ke sekolah maka mereka diwakili oleh ibu mereka yang datang untuk menghadiri pertemuan ini. Ketika mereka harus menandatangani register untuk menerima uang saku anak-anak mereka, aku menyadari bahwa kebanyakan dari mereka tidak bisa membaca atau menulis. Pada saat inilah kita bias melihat kebanggaan di mata mereka,mereka dapat menyekolahkan anak mereka dan pengakuan mereka terhadap Yayasan Anak untuk membantu mereka dalam hal ini;

Dengan sangat sedih saya meninggalkan mereka dengan berjanji  bahwa saya akan kembali menemui mereka dan tidak akan pernah melupakan mereka.Mereka menunggu saya untuk menemui mereka.”

Philippe, Charlotte, Camille dan Sasha – Orang tua asuh Amélia, 10 tahun – 2014

“Perkenalan kami dengan yayasan Anak berawal dari pencarian di internet (hidup teknologi !) pada musim dingin tahun 2013 yang lalu. Kami ingin mengisi liburan kami di Bali dengan memperkenalkan budaya dan membangkitkan rasa solidaritas dalam diri kedua putri kami yang saat itu berusia 7 dan 3 tahun.

Kami menghubungi yayasan Anak Bali untuk mengutarakan keinginan kami menjadi orang tua asuh dan, jika mungkin, bertemu dengan anak asuh dan keluarganya saat liburan ke Bali musim panas 2014.

Putri tertua kami memutuskan untuk mengumpulkan mainan dari teman-teman sekolahnya untuk diberikan ke anak-anak asuh yang akan kami temui saat distribusi ANAK. Kami berangkat ke Bali awal Agustus dengan membawa 40kg mainan dan beberapa barang pribadi.

Tiba di Bali, tim Anak dengan tanggap menghubungi kami untuk menjelaskan detail perencanaan kegiatan distribusi. Selama 4 hari kami mengikuti kegiatan distribusi, perjalanan melewati sawah, hutan dan desa-desa terpencil untuk (berharap) bertemu anak-anak asuh.

Pertemuan ini di luar ekspektasi kami karena yayasan menyambut kami dengan sangat baik, ramah dan murah hati. Kami bahkan bisa menikmati kegiatan ini sepenuhnya tanpa perlu merasa khawatir dengan logistik. Kami datang dari satu desa ke desa lain, menikmati kebersamaan dengan anak-anak yang selalu tersenyum, ceria dan ingin tahu. Mereka sangat menyukai mainan yang kami bawa (terutama anak laki-laki, mereka suka mainan mobil!). Dengan penuh bangga kami melihat kedua putri kami membagikan mainan yang dibawa dari Perancis tanpa rasa cemburu atau iri hati.

Hari keempat (hari yang dinanti-nanti!) kami berkesempatan bertemu dengan anak asuh kami, Putu Amelia PUTRI. Akhirnya kami bisa melihat secara langsung gadis kecil itu! Kedua putri kami segera merasa akrab dengannya, meskipun bahasa menjadi kendala komunikasi. Beruntung koordinator desa mahir berbahasa Perancis. Berkat dia, kami bisa berkomunikasi dengan Amelia. Kami juga mendapat kesempatan mengunjungi rumah anak asuh dan disambut oleh orang tuanya. Kedua putri kami bisa melihat kondisi kehidupan sehari-hari Amel dan keluarganya yang jauh berbeda dengan kehidupan kami. Amelia menyanyikan sebuah lagu tradisional Bali karena ia baru saja memenangkan juara 3 lomba menyanyi. Momen perkenalan ini begitu sederhana, namun penuh emosi, penantian, penghargaan yang akan selalu kami kenang dalam hati. Hal ini sekaligus memberi makna mendalam bagi kami untuk setiap donasi yang kami berikan ke yayasan Anak.

Terima kasih kepada team ANAK atas kerja keras dan manajemen keuangan yang baik yang membuat kami sebagai orang tua asuh percaya dengan yayasan ini. Bravo!”

Jean-Luc – 2016

“Pelancong yang ingin mengembalikan sedikit apa yang telah dia terima, Jean Luc Benazra menceritakan kepada kami pertemuannya dengan Yayasan Anak saat distribusi bulan Mei 2016.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tim lokal yayasan, unntuk sambutannya yang sangat hangat dan waktu yang mereka sediakan untuk kami. 3 hari bersama mereka adalah saat berbagi yang menyenangkan . Yang terakhir ini tidak mudah untuk digambarkan: pemandangan di Bali memberikan kesenangan tersendiri, bertemu dengan banyak orang yang baik misalnya anggota tim yayasan, juga para orang tua asuh dan terutama anak-anak yang melipatgandakan kebahagiaan kami. Namun, berbicara kesenangan tampak tidak pantas dengan kondisi yang begitu sulit bagi banyak anak dan keluarga mereka. Tetapi senyum, canda tawa dan kebaikan mereka benar-benar adalah sebuah pelajaran kehidupan. Walaupun kita ingin membantu mereka, kita sadar bahwa tidak mungkin membantu sebanyak yang kita mau. Penjelasan yang diberikan oleh para koordinator lokal membuat kita mengerti seberapa banyak kita harus memberi, bukannya seberapa banyak kita ingin memberi. Dari para kordinator lokal inilah kita merasakan bahwa yayasan ini adalah yayasan yang baik yang bekerja dengan hati.”

Testimoni dari Francois dan Corine de Corlieu – 2016

“Berpartisipasi dalam satu putaran distribusi bulanan Yayasan Anak, berdampingan dengan tim Yayasan Anak selama 3 hari, mengunjungi senter Yayasan Anak di Ubud, Amed, Pakisan dan Singaraja, begitu juga semua anak-anak dan remaja, bagi kami itu adalah merupakan suatu pengalaman yang sangat menyenangkan dan menyentuh hati.
Di Amed ,kami ikut berpartisipasi untuk yang pertama kali dalam distribusi bulanan. Kebaikan anak-anak asuh, sikap kepatuhan dan penghormatan yang ditunjukkan kepada tim Yayasan Anak betul-betul membuat kami terkejut dan terkesan.
Di dalam sebuah permainan, di dalam lingkaran anak-anak mengulurkan tangan kepada kami mengajak kami menari bersama………. Betapa menyenangkan !
Di Desa Pakisan, kami diperkenalkan dengan Luh Sri, anak asuh kami : yang berkepribadian lembut dan menawan yang dipengaruhi oleh semua kualitas budaya Bali. Kami terpesona, bersemangat untuk bisa membantu membiayai kelangsungan pendidikannya. Dengan ibu dan neneknya kami makan kelapa muda bersama. Kesederhanaan dan sifat alami mereka memberi kami perasaan segera menjadi bagian dari keluarga mereka.
Sri kemudian mengajak kami untuk mengunjungi Desa Pakisan dan sekitarnya. Sebuah jalan-jalan yang indah yang memungkinkan kami untuk lebih mengenal Sri, gadis muda yang bertekad dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya.
Kami juga diundang untuk menghadiri pertunjukan wayang kulit yang diadakan untuk menghibur pada acara kematian dirumah tetangganya. Sri memungkinkan kami untuk memahami maknanya, berkat terjemahannya dalam bahasa inggris.
Kami berangkat di hari berikutnya, terharu, setelah tiga hari ini yang memungkinkan kami untuk menghargai komitmen dan dedikasi dari tim Yayasan Anak untuk semua anak-anak asuhnya.”

Saskia –  Ibu Asuh Dari Gede, Umur 10 Tahun – 2016


“Kami bertemu dengan Gede dan ayahnya selama perjalanan kami di pulau para dewa yang kita sangat sukai. Gede tinggal di sebuah desa kecil di Bali utara,di daerah yang sedikit dikunjungi oleh wisatawan.

Kami disambut oleh Kadek Buda, koordinator lapangan di situ. Kami pergi ke rumah Gede di mana kita menghabiskan waktu untuk duduk di teras rumahnya yang sederhana, ayahnya menawari kami minuman dan kue. Kami memberi mereka beberapa oleh-oleh untuk mengucapkan terima kasih atas keramahan mereka dan kemudian kami semua pergi bersama-sama ke kota terdekat yaitu  Singaraja untuk membelikan Gede hadiah. Kami ingin menawarkan dia sepeda sehingga ia bisa menikmati permainan anak-anak tapi kami ingin dia memilih sepedanya sendiri. Setelah harganya cocok, Gede memilih  sebuah sepeda berwarna kuning yang tampaknya dia sukai.Kami semua kembali ke desa untuk mencoba sepedanya. Sebelumnya kami tidak mengetahui bagaimana pertemuan ini akan berlangsung dan kami tidak ingin mengganggu terlalu lama,kami tidak merencanakan untuk tinggal lama di rumahnya Gede, akhirnya kami pergi dengan cepat yang mana sangat kami sesali setelah kepulangan kami sekarang. Pada liburan kami berikutnya ke Bali, kami akan tinggal lebih lama lagi untuk menikmati pertemuan ini, yang tak ternilai harganya.”


Sandrine, Romane dan Luna, ibu asuh Wayan,14 tahun – 2017


“Kami mengenal yayasan Anak dan bertemu dengan Christine Grosso saat berlibur ke Bali pada bulan Februari 2015. Kami ingin segera berpartisipasi membantu anak asuh agar dapat melanjutkan sekolahnya. Akhirnya kami memutuskan menjadi orang tua asuh Wayan, pemuda berusia 12 tahun. Dia tinggal di dekat Ubud, di sebuah desa kecil yang sangat miskin, dengan orang tua, adik laki-laki dan kakeknya. Bersama kedua putri kami, Romane (18 tahun) dan Luna (7 tahun), kami merasa senang bisa bertemu anak asuh kami di bulan Februari 2017 saat liburan ke Bali untuk kedua kalinya.

Betapa bahagia kami bertemu Wayan dan melihat perbedaan besar yang ada diantara kami. Awalnya malu melihat kami, kemudian dengan antusias Wayan mengeluarkan foto keluarga yang pernah kami kirimkan lewat pos. Kami berbagi cerita sambil melihat foto-foto yang disimpannya dengan hati-hati. Romane dan Luna sangat terkesan dan tersentuh dengan pertemuan ini. Koordinator Anak menjadi penerjemah yang memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan Wayan dan keluarganya. Suatu saat nanti kami berencana mengajak Wayan ke Monkey Forest di Ubud karena dia belum pernah ke sana. Wayan bercita-cita menjadi seorang koki dan dia belajar rajin di sekolah untuk mewujudkan cita-citanya. Kegiatan distribusi, bertemu dengan keluarga anak asuh, memberi makna tersendiri bagi kegiatan yayasan Anak dan komitmen kami. Romane juga memutuskan untuk menjadi orang tua asuh pada bulan Juli 2017. Selamat dan terima kasih kepada tim Anak atas kerja keras yang luar biasa dan kemampuan dalam mengorganisasi aksi solidaritas yang sangat berarti bagi anak asuh.”