Di Bali, lebih dari 60% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Sekolah dasar, SMP, SMA, dan universitas terletak jauh dari desa dan biayanya terlalu mahal. Oleh karenanya banyak anak yang tidak bersekolah.

Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pentingnya pendidikan disebabkan karena mereka tidak mengeyam pendidikan. Hal ini menjadi penyebab utama terhentinya pendidikan anak-anak, terutama anak perempuan yang dianggap kurang penting dalam keluarga. Berbeda dengan anak laki-laki yang lebih diprioritaskan dan dihargai sesuai sistem patriarki yang berlaku di Bali. Untuk mengatasi kesenjangan ini dan memenuhi Tujuan Pembangunan Milenium PBB (Millennium Development Goals/ MDG), sejak tahun 2003 yayasan Anak mengajak para orang tua asuh, mitra, donatur untuk meningkatkan kesadaran para keluarga sekitar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.

Garis besar dari tujuan yang dimaksud adalah:

  • Memastikan pendidikan dasar yang merata bagi semua warga (MDG 2)
  • Mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan yang layak bagi para remaja perempuan hingga mereka lulus (MDG 3)
  • Memastikan kelestarian lingkungan hidup yang berkesinambungan dengan rencana dan kegiatan sosialisasi lingkungan serta pengelolaan limbah … (MDG 7)

Selain 300 anak asuh dan program beasiswa yang dikelola sejak berdirinya Anak, yayasan juga mengelola “Dharma Cita”, asrama pertama yayasan di Singaraja (Bali Utara) sejak tahun 2013. Terletak di dekat universitas, asrama ini mampu menampung 27 siswa (tersedia tempat tinggal dan makan) yang mayoritas adalah laki-laki, di mana mereka dapat fokus mengikuti studi mereka hingga lulus. Pada 2017 berkat sistem orang tua asuh yang telah berjalan selama 14 tahun dan kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh tim Anak di desa-desa, prosentasi anak asuh laki-laki dan perempuan menjadi seimbang dengan semakin banyak jumlah remaja perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebanyak 22 remaja perempuan ingin melanjutkan studinya dan membutuhkan tempat tinggal dekat dengan SMA atau universitas pilihan mereka. Asrama Dharma Cita merupakan tempat yang ideal, namun kapasitasnya terbatas hanya untuk 27 anak asuh, sehingga tidak mungkin kami bisa menerima mereka semua. Sebanyak 49 anak asuh, 24 diantaranya adalah remaja perempuan (17 diantaranya sedang menjalani pendidikan SMA/SMK dan 7 siswi baru membutuhkan tempat tinggal untuk tahun ajaran sekolah Juli 2017). Oleh karena itu Anak berencana membangun asrama kedua, “Dharma Cita 2” untuk menampung para siswi yang jumlahnya dapat terus bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan perkiraan total anak asuh yang dibantu oleh yayasan Anak, jumlah anak yang ada di Dharma Cita 1 dan 2 dapat mencapai rata-rata 50 siswa per tahun hingga 2023 dan masih akan bertambah pada tahun berikutnya, dengan jumlah remaja perempuan yang semakin banyak. Dharma Cita 2 akan menjadi asrama remaja putri, sedangkan Dharma Cita 1 dikhususkan untuk remaja putra (yang saat ini jumlahnya 60% dari penghuni asrama). Melalui proyek ini, yayasan Anak ingin memberi kesempatan yang sama dalam hal pendidikan kepada anak perempuan dan laki-laki sehingga dapat membantu mereka keluar dari kesenjangan dan lingkaran kemiskinan. Anak juga berencana untuk mengadakan lokakarya pengembangan kewirausahaan di Dharma Cita 2 sehingga para remaja putri memperoleh keterampilan dan pengetahuan tambahan. Jika tertarik atau tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah, para remaja putri ini dapat melakukan kegiatan produksi/ penjualan (sabun, hasil jahitan, manajemen dan daur ulang sampah) dan menghasilkan uang sendiri.

Untuk membangun asrama, Anak berencana membeli tanah seluas 400 m2   ̶yang akan didirikan bangunan seluas 250 m² : 8 kamar tidur lengkap/ kamar mandi (3 siswi dalam 1 kamar), dapur, ruang bersama (untuk kegiatan, kunjungan, lokakarya) ̶  membeli furnitur, merekrut juru masak/ penjaga yang siaga 24 jam, mengerahkan koordinator lapangan untuk memantau pengelolaan pusat kegiatan yayasan secara keseluruhan (manajemen/ operasional/ SDM). Membeli tanah merupakan langkah yang bijak mengingat harga properti dan tanah yang meningkat pesat setiap tahunnya. Sedangkan menyewa tanah dinilai hanya menghabiskan uang karena harganya mahal untuk jangka waktu sewa yang sebentar. Letak Dharma Cita 2 berdekatan dengan Dharma Cita 1 dengan tujuan untuk menjaga hubungan sosial antar remaja, memungkinkan mereka untuk berbagi komputer dan peralatan sekolah jika diperlukan dan memudahkan pekerjaan koordinator lapangan yang datang setiap hari.

Melalui halaman ini, ikuti perkembangan pembangunan asrama baru kami.

 

Januari 2017

Rancang bangun telah dibuat dan pencarian lahan dilakukan.

 

April 2017

Tanah untuk pembangunan asrama telah dibeli, di sini letaknya dan kunjungan pertama kami lakukan bersama dengan para siswa.

 

November 2017

Presiden Yayasan Anak, Dwi dan Restini, mahasiswi arsitektur yang juga salah satu anak asuh yayasan Anak, sedang menyelesaikan rancang bangun asrama.

 

Januari 2018

Pembangunan dinding pembatas dimulai pada 23 Januari dengan meminta bantuan para orang tua dari anak asuh di Panji Anom. Namun sebelumnya, sebuah upacara adat digelar dengan harapan agar pembangunan berjalan dalam kondisi yang baik dan lancar.

 

Februari 2018

Pembangunan dinding pembatas selesai dan hasilnya dapat dilihat pada foto berikut.

 

Oktober 2018

Penggalian tanah dilakukan untuk menanam fondasi dan pilar bangunan.

Tanggal 3 Oktober, upacara adat NGERUAK diadakan untuk menyucikan tanah sebelum pembangunan dimulai serta meminta kepada para roh agar tidak mengganggu proses pembangunan.

Persiapan besi beton untuk membangun pilar.

 

Desember 2018

Pembangunan pilar dimulai.

 

Januari 2019

Pembangunan pilar dipercepat.

Pembangunan tangki septik

Februari 2019

Lantai pertama sedang berlangsung

Lempengan lantai pertama dituangkan

Maret 2019